Selamat Jalan Mas Agung

Aku mengenal Mas Agung 5 tahun lebih. Orangnya kalem pendiem, namun kelihatan wibawa seorang perwira ada di matanya. Mas Agung (Kapten Penerbang Agung Apriantoro) kukenal sebagai seorang pilot yang handal.

Namun tiba-tiba Takdir Alloh menentukan. Kamis aku mendengar kabar Pesawat Casa 212 jatuh. Dan sama sekali aku tidak menduga Mas Agung menjadi awak pesawat tersebut. Hari Jumat baru aku mendapat kabar beliau adalah co pilot pesawat tersebut. Tersentak dada ini, satu lagi orang baik meninggal dunia. Innalillahi Wa Innailaihi rojiun.

Di balik kerasnya kabar ini menusuk dada setiap orang yang mengenal mas Agung. Ada senyum setelah kita menyadari maksud Alloh. Bukankah setiap yang hidup itu pasti mati, dan jalan Mas Agung Subhannalloh, InsyaAlloh syahid, yach sahid adalah cita-cita tertinggi jalan kematian setiap muslim dimana tidak ada perhitungan amal dan dosa.

Beliau berangkat meninggalkan Mbak Astrid dan Aurel, untuk menunaikan tugas negara, gugur sebagai seorang pahlawan di mata negara dan bangsa, dan syahid di mata Alloh. Inilah yang sering lepas dari kacamata kita sebagai seorang muslim.

Untuk Mbak Astrid dan Aurel, Kami selalu menyayangi Mas Agung, Mbak Astrid juga Aurel. Memang berat tapi InsyaAlloh Mbak Astrid pasti bisa melaluinya. Gugurnya Mas Agung adalah cita-cita tertinggi seorang muslim. Tidak semua orang dipilih untuk syahid. Saya yakin ketika Aurel sudah mengerti dia akan banngga dengan Ayahnya, dan bangga dengan bundanya.

Selamat Jalan Mas Agung....

Salam dari Bontang

Nopin, Tina, & Ryu

                            

Laron Goreng, Masa Kecilku

Kecebong 4, Malam hujan ada Laron masuk ke rumahku ingatanku kembali ke 20 tahun yang lalu. Sampeyan tau Laron ?? Laron adalah semacam serangga yang mempunyai 4 sayap. Laron ini biasanya keluar setelah ada hujan yang tak begitu besar gerimis lah. Laron keluar bersama dengan semacam rayap yang mempunyai capit, jangan coba-coba masuk terlalu dekat ke sarang, tapi jangan khawatir gigitannya tidak seganas lebah(tawon).

Laron opo tho bahasa Indonesiane ? bisa digunakan untuk umpan memancing ikan, karena banyak mengandung protein. Ada 3 cara untuk menangkap Laron : 1. Langsung ke sarangnya, 2. Langsung Tangkap dengan tangan, 3. Tangkap dengan air di lengser. Bingung po ora he he he.

Bapak adalah guruku yang mengenalkan pada dunia di luar rumah. Banyak hal2 yang bagi anak kecil adalah hal baru yang tidak lazim, menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi anak-anak. Bapak hanya 2 atau 3 kali selama aku kecil melakukan hal ini. Tetapi tetap mancep sampai sekarang.

Kembali ke cara nangkep laron, biasanya bapak menyediakan lengser besar, lampu teplok(dulu belum ada lampu charge ) dan tempat untuk laron yang sudah diambil sayapnya. Lengser diisi air kemudian nyalakan lampu teplok dan taruh tengah lengser. Matikan semua lampu rumah, dan Laron akan dating ke lampu teplok. Saat itulah aku tahu kebanyakan serangga adalah Light Lovers. Kemudian tungguin aj, laronnya masuk lengser dan pisahkan sayapnya. Kalau sudah terkumpul 1 mangkuk, bisa digoreng dengan bawang garam, atau langsung digoreng rasanya nyam-nyam enak sekali, bahkan dulu sering dibuat rempeyek.

Yu Timah

Yu Timah adalah tetangga kami.

Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir.

Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah

sebesar Rp 1,2 juta. Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Rumahnya berlantai tanah,

berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri.

Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri.

Usia Yu Timah sekitar 50-an, berbadan kurus dan tidak menikah.

Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah

tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Menginjak remaja

Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat,

tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran PRT. Dia kembali ke kampung. Para tetangga bergotong royong membuatkan

gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang

bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.

Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para

santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan

nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya. Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang

kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tidak bisa melanjutkan sekolah karena tidak ada biaya. Anak itu pun

harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan PRT dan lagi-lagi terdampar di Jakarta.

Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan

berjualan nasi bungkus. Untunglah di kampung kami ada pesantren kecil. Para santrinya adalah anak-anak petani

yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.

Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya.

Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di BPR syariah di mana saya ikut jadi pengurus. Tapi Yu Timah tidak pernah

mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu

setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu saya

melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan

mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.

Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.

"Pak, saya mau mengambil tabungan,'' kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.

''O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila Senin?'',

"Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa."

'Mau ambil berapa?'' tanya saya.

''Enam ratus ribu, Pak.''

''Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?''

Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.

''Saya mau beli kambing qurban, Pak. Kalau 600 ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan,

cukup untuk beli satu kambing.''

Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam.

Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya.

Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing qurban.

''Iya, Yu. Senin lusa uang Yu Timah akan diberikan sebesar 600 ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berqurban.

Yu Timah bahkan wajib menerima qurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada.

Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing qurban?''

''Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berqurban.

Selama ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging qurban.''

''Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.''

Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar.

Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.

Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri.

Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran qurban yang diwariskan Nabi Ibrahim?

Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya? Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya.

Mungkin saya juga begitu. Ah, Yu Timah, saya jadi malu.

Duhai Yu Timah. Kamu yang belum naik haji, atau malah tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang

yang suka berqurban.

Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus.

Uangmu malah kamu belikan kambing qurban.

Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar.

Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga.

Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.

Tak Pernah Merasa Menjadi Orang Hebat

Tak Pernah Merasa Menjadi Orang Hebat

Oleh Adi J. Mustafa

18 Jul 06 09:03 WIB
Kirim teman

Ibu berusia sekitar enam puluh lima tahun ini berkebangsaan Jepang. Dia pernah tinggal di Indonesia sekitar awal tahun 70-an. Suaminya bekerja pada perusahaan Mitsubishi dan bertugas cukup lama di Indonesia saat itu. Keluarga mereka sangat mencintai Indonesia. Suaminya merasakan makna yang amat mendalam dengan pengalaman kerja di negeri jamrud khatulistiwa ini. Terlebih lagi dia merasakan sejak bekerja di sana, karirnya di Mitsubishi semakin menanjak. Setelah selesai bertugas di sana, pulang ke Jepang sekitar dua tahun, dia ditugaskan di Amerika dan menempati posisi yang amat penting.

Obrolan kami sore itu menyentuh sosok suami si Ibu. Saya bisa memaklumi di usianya dia butuh bercerita, mengenang masa lalunya dan juga mengenang suaminya yang telah meninggal kira-kira setahun lalu. Bagi saya ini adalah pertama kalinya saya mendengarkan cerita tentang suaminya. Kawan saya yang ikut dalam obrolan lebih mengenal si Ibu, karena lebih sering berinteraksi dalam latihan-latihan grup angklung, grup yang dibentuk sang suami untuk bisa terus berinteraksi dengan Indonesia dan mahasiswa Indonesia di Chiba.

"Suami saya mendapatkan jabatan penting di Amerika. Ketika kami tinggal di Washington, transportasi perjalanan kami sering menggunakan pesawat jet khusus yang disewa perusahaan," kenangnya tanpa menunjukkan ungkapan sombong. "Seringkali di rumah kami diadakan pesta dengan tamu-tamu para duta besar dan pejabat-pejabat penting Amerika. Suami saya amat dekat dengan menteri pertahanan Amerika saat itu."

"Tapi itu semua adalah masa di Amerika. Ketika kami pulang ke Jepang dan selesai bertugas di Mitsubishi, suami saya sempat mengajar di Universitas Takushoku untuk mata kuliah trading. Dia kemudian memilih hidup sederhana. Lihatlah rumah kami sekarang. Kami tidak kaya. Suami saya pun tidak meninggalkan warisan apa-apa buat anak-anak. Baginya anak-anak mesti mesti berusaha sendiri untuk sukses... Dan saya pun bahagia dengan kehidupan sederhana seperti ini." Rumahnya memang cukup sederhana untuk ukuran mantan seorang pimpinan teras Mitsubishi.

Sebuah apartemen dengan ukuran total sekitar 8 x 10 meter persegi. Nampak satu ruang tengah yang luas tempat sofa, meja makan berada. Ruang ini sangat bernuansa Indonesia, sebab banyak hiasan dinding dan foto-foto Indonesia. Sebuah ruang kerja dilengkapi dengan komputer dan sebuah kamar, yang kata si Ibu diperuntukkan sebagai guest-room, sembari menawarkan para mahasiswa Indonesia untuk menginap jika memerlukan. Suasana rumah ini memang cerminan sebuah keputusan yang amat bersahaja jika dibandingkan dengan fasilitas yang pernah keluarga ini dapatkan di Indonesia atau di Amerika.

"Di balik semua pengalaman kerjanya, suami saya tidak pernah merasa menjadi orang hebat. Dia menganggap semua kesuksesan ini hanyalah wujud penunaian tugas semata. Dia selalu ingin belajar kepada siapapun. Dia akan selalu mendengarkan orang lain dengan seksama ketika sedang menjelaskan sesuatu atau bercerita. Kebahagiaan paling besarnya adalah ketika dia pulang kerja dan bisa bercengkrama dengan keluarga di rumah...," Ibu ini berhenti berbicara sebentar. Nampak matanya berkaca-kaca dan suaranya bergetar.

"Dia selalu nampak tergesa-gesa ketika tiba ke rumah dan dia selalu ceria di rumah. Tak pernah keluar dari mulutnya cerita tentang suasana kerja... Saya tak pernah tahu masalah apa yang sedang dihadapi suami saya seberat apapun masalah itu. Sungguh saya merasa betul-betul puas menemani suami saya dalam suka dan duka. Walaupun dia sudah tiada, saya sungguh-sungguh merasa puas..." Si Ibu menggunakan kata jyuubun untuk menunjukkan rasa puasnya dengan kehidupan bersama suaminya yang telah dia jalani. Sebuah ungkapan syukur yang dalam, kata saya dalam hati.

***

AlhamdulilLaah, malam ini saya pulang ke apartemen membawa pelajaran-pelajaran kehidupan. Apresiasi saya sampaikan kepada si Ibu yang telah tulus mendukung suaminya dengan menciptakan suasana rumah menjadi tempat yang nyaman. Di antara pelajaran paling berkesan sore itu adalah kalimat "dia tidak pernah merasa menjadi orang hebat."

Seperti saya sampaikan pada obrolan tadi kepada si Ibu, sikap inilah yang membuat orang akan tetap menaiki tangga kesuksesan. Tak pernah berhenti belajar dan terus menekuni pekerjaan sebaik-baiknya. Bukankah ketika seseorang merasa telah di puncak sebuah bukit, tiada hal lain yang akan dilaluinya kecuali jalan menurun. Bagi seorang muslim sikap tak pernah merasa menjadi orang hebat adalah sikap tawadhu dan ini adalah cerminan sikap tulus ikhlasnya kepada Allah Yang Maha Penyayang dalam menjalani ibadah sepanjang hayat.

kami sore itu menyentuh sosok suami si Ibu. Saya bisa memaklumi di usianya dia butuh bercerita, mengenang masa lalunya dan juga mengenang suaminya yang telah meninggal kira-kira setahun lalu. Bagi saya ini adalah pertama kalinya saya mendengarkan cerita tentang suaminya. Kawan saya yang ikut dalam obrolan lebih mengenal si Ibu, karena lebih sering berinteraksi dalam latihan-latihan grup angklung, grup yang dibentuk sang suami untuk bisa terus berinteraksi dengan Indonesia dan mahasiswa Indonesia di Chiba.

"Suami saya mendapatkan jabatan penting di Amerika. Ketika kami tinggal di Washington, transportasi perjalanan kami sering menggunakan pesawat jet khusus yang disewa perusahaan," kenangnya tanpa menunjukkan ungkapan sombong. "Seringkali di rumah kami diadakan pesta dengan tamu-tamu para duta besar dan pejabat-pejabat penting Amerika. Suami saya amat dekat dengan menteri pertahanan Amerika saat itu."

"Tapi itu semua adalah masa di Amerika. Ketika kami pulang ke Jepang dan selesai bertugas di Mitsubishi, suami saya sempat mengajar di Universitas Takushoku untuk mata kuliah trading. Dia kemudian memilih hidup sederhana. Lihatlah rumah kami sekarang. Kami tidak kaya. Suami saya pun tidak meninggalkan warisan apa-apa buat anak-anak. Baginya anak-anak mesti mesti berusaha sendiri untuk sukses... Dan saya pun bahagia dengan kehidupan sederhana seperti ini." Rumahnya memang cukup sederhana untuk ukuran mantan seorang pimpinan teras Mitsubishi.

Sebuah apartemen dengan ukuran total sekitar 8 x 10 meter persegi. Nampak satu ruang tengah yang luas tempat sofa, meja makan berada. Ruang ini sangat bernuansa Indonesia, sebab banyak hiasan dinding dan foto-foto Indonesia. Sebuah ruang kerja dilengkapi dengan komputer dan sebuah kamar, yang kata si Ibu diperuntukkan sebagai guest-room, sembari menawarkan para mahasiswa Indonesia untuk menginap jika memerlukan. Suasana rumah ini memang cerminan sebuah keputusan yang amat bersahaja jika dibandingkan dengan fasilitas yang pernah keluarga ini dapatkan di Indonesia atau di Amerika.

"Di balik semua pengalaman kerjanya, suami saya tidak pernah merasa menjadi orang hebat. Dia menganggap semua kesuksesan ini hanyalah wujud penunaian tugas semata. Dia selalu ingin belajar kepada siapapun. Dia akan selalu mendengarkan orang lain dengan seksama ketika sedang menjelaskan sesuatu atau bercerita. Kebahagiaan paling besarnya adalah ketika dia pulang kerja dan bisa bercengkrama dengan keluarga di rumah...," Ibu ini berhenti berbicara sebentar. Nampak matanya berkaca-kaca dan suaranya bergetar.

"Dia selalu nampak tergesa-gesa ketika tiba ke rumah dan dia selalu ceria di rumah. Tak pernah keluar dari mulutnya cerita tentang suasana kerja... Saya tak pernah tahu masalah apa yang sedang dihadapi suami saya seberat apapun masalah itu. Sungguh saya merasa betul-betul puas menemani suami saya dalam suka dan duka. Walaupun dia sudah tiada, saya sungguh-sungguh merasa puas..." Si Ibu menggunakan kata jyuubun untuk menunjukkan rasa puasnya dengan kehidupan bersama suaminya yang telah dia jalani. Sebuah ungkapan syukur yang dalam, kata saya dalam hati.

***

AlhamdulilLaah, malam ini saya pulang ke apartemen membawa pelajaran-pelajaran kehidupan. Apresiasi saya sampaikan kepada si Ibu yang telah tulus mendukung suaminya dengan menciptakan suasana rumah menjadi tempat yang nyaman. Di antara pelajaran paling berkesan sore itu adalah kalimat "dia tidak pernah merasa menjadi orang hebat."

Seperti saya sampaikan pada obrolan tadi kepada si Ibu, sikap inilah yang membuat orang akan tetap menaiki tangga kesuksesan. Tak pernah berhenti belajar dan terus menekuni pekerjaan sebaik-baiknya. Bukankah ketika seseorang merasa telah di puncak sebuah bukit, tiada hal lain yang akan dilaluinya kecuali jalan menurun. Bagi seorang muslim sikap tak pernah merasa menjadi orang hebat adalah sikap tawadhu dan ini adalah cerminan sikap tulus ikhlasnya kepada Allah Yang Maha Penyayang dalam menjalani ibadah sepanjang hayat.

"Ibu, I Miss You So Much"

14/04/2006 17:38

"Ibu, I Miss You So Much"

Jamil Azzaini - Kubik Leadership

Jakarta, Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apapun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi negatif atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula. Kali ini izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman pribadi yang terjadi pada 2003.

Pada September-Oktober 2003 isteri saya terbaring di salah satu rumah sakit di Jakarta. Sudah tiga pekan para dokter belum mampu mendeteksi penyakit yang diidapnya. Dia sedang hamil 8 bulan. Panasnya sangat tinggi. Bahkan sudah satu pekan isteri saya telah terbujur di ruang ICU. Sekujur tubuhnya ditempeli kabel-kabel yang tersambung ke sebuah layar monitor.

Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat isteri saya. Dokter berkata, "Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu". Sayapun menjawab "Mengapa dokter meminta izin saya? Bukankan setiap pagi saya membeli berbagai macam obat di apotek dokter tidak meminta izin saya" Dokter itu menjawab "Karena obat yang ini mahal Pak Jamil." "Memang harganya berapa dok?" Tanya saya. Dokter itu dengan mantap menjawab "Dua belas juta rupiah sekali suntik." "Haahh 12 juta rupiah dok, lantas sehari berapa kali suntik, dok? Dokter itu menjawab, "Sehari tiga kali suntik pak Jamil".

Setelah menarik napas panjang saya berkata, "Berarti satu hari tiga puluh enam juta, dok?" Saat itu butiran air bening mengalir di pipi. Dengan suara bergetar saya berkata, "Dokter tolong usahakan sekali lagi mencari penyakit isteriku, sementara saya akan berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar penyakit istri saya segera ditemukan." "Pak Jamil kami sudah berusaha semampu kami bahkan kami telah meminta bantuan berbagai laboratorium dan penyakit istri Bapak tidak bisa kami deteksi secara tepat, kami harus sangat hati-hati memberi obat karena istri Bapak juga sedang hamil 8 bulan, baiklah kami akan coba satu kali lagi tapi kalau tidak ditemukan kami harus mengganti obatnya, pak." jawab dokter.

Setelah percakapan itu usai, saya pergi menuju mushola kecil dekat ruang ICU. Saya melakukan sembahyang dan saya berdoa, "Ya Allah Ya Tuhanku... aku mengerti bahwa Engkau pasti akan menguji semua hamba-Mu, akupun mengerti bahwa setiap kebaikan yang aku lakukan pasti akan Engkau balas dan akupun mengerti bahwa setiap keburukan yang pernah aku lakukan juga akan Engkau balas. Ya Tuhanku... gerangan keburukan apa yang pernah aku lakukan sehingga Engkau uji aku dengan sakit isteriku yang berkepanjangan, tabunganku telah terkuras, tenaga dan pikiranku begitu lelah. Berikan aku petunjuk Ya Tuhanku. Engkau Maha Tahu bahkan Engkau mengetahui setiap guratan urat di leher nyamuk. Dan Engkaupun mengetahui hal yang kecil dari itu. Aku pasrah kepada Mu Ya Tuhanku. Sembuhkanlah istriku. Bagimu amat mudah menyembuhkan istriku, semudah Engkau mengatur milyaran planet di jagat raya ini."

Ketika saya sedang berdoa itu tiba-tiba terbersit dalam ingatan akan kejadian puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, saya hidup dalam keluarga yang miskin papa. Sudah tiga bulan saya belum membayar biaya sekolah yang hanya Rp. 25 per bulan. Akhirnya saya memberanikan diri mencuri uang ibu saya yang hanya Rp. 125. Saya ambil uang itu, Rp 75 saya gunakan untuk mebayar SPP, sisanya saya gunakan untuk jajan.

Ketika ibu saya tahu bahwa uangnya hilang ia menangis sambil terbata berkata, "Pokoknya yang ngambil uangku kualat... yang ngambil uangku kualat..." Uang itu sebenarnya akan digunakan membayar hutang oleh ibuku. Melihat hal itu saya hanya terdiam dan tak berani mengaku bahwa sayalah yang mengambil uang itu.

Usai berdoa saya merenung, "Jangan-jangan inilah hukum alam dan ketentuan Yang Maha Kuasa bahwa bila saya berbuat keburukan maka saya akan memperoleh keburukan. Dan keburukan yang saya terima adalah penyakit isteri saya ini karena saya pernah menyakiti ibu saya dengan mengambil uang yang ia miliki itu." Setelah menarik nafas panjang saya tekan nomor telepon rumah dimana ibu saya ada di rumah menemani tiga buah hati saya. Setelah salam dan menanyakan kondisi anak-anak di rumah, maka saya bertanya kepada ibu saya "Bu, apakah ibu ingat ketika ibu kehilangan uang sebayak seratus dua puluh lima rupiah beberapa puluh tahun yang lalu?"

"Sampai kapanpun ibu ingat Mil. Kualat yang ngambil duit itu Mil, duit itu sangat ibu perlukan untuk membayar hutang, kok ya tega-teganya ada yang ngambil," jawab ibu saya dari balik telepon. Mendengar jawaban itu saya menutup mata perlahan, butiran air mata mengalir di pipi.

Sambil terbata saya berkata, "Ibu, maafkan saya... yang ngambil uang itu saya, bu... saya minta maaf sama ibu. Saya minta maaaaf... saat nanti ketemu saya akan sungkem sama ibu, saya jahat telah tega sama ibu." Suasana hening sejenak. Tidak berapa lama kemudian dari balik telepon saya dengar ibu saya berkata: "Ya Tuhan pernyataanku aku cabut, yang ngambil uangku tidak kualat, aku maafkan dia. Ternyata yang ngambil adalah anak laki-lakiku. Jamil kamu nggak usah pikirin dan doakan saja isterimu agar cepat sembuh." Setelah memastikan bahwa ibu saya telah memaafkan saya, maka saya akhiri percakapan dengan memohon doa darinya.

Kurang lebih pukul 12.45 saya dipanggil dokter, setibanya di ruangan sambil mengulurkan tangan kepada saya sang dokter berkata "Selamat pak, penyakit isteri bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas. Ibu telah kami obati dan panasnya telah turun, setelah ini kami akan operasi untuk mengeluarkan bayi dari perut ibu." Bulu kuduk saya merinding mendengarnya, sambil menjabat erat tangan sang dokter saya berkata. "Terima kasih dokter, semoga Tuhan membalas semua kebaikan dokter."

Saya meninggalkan ruangan dokter itu.... dengan berbisik pada diri sendiri "Ibu, I miss you so much."

Keterangan Penulis:

Jamil Azzaini adalah Senior Trainer dan penulis buku Best Seller KUBIK LEADERSHIP; Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup.

Kisah sebutir Telur Bebek

20 Tahun yang lalu di sebuah desa kecil di Jawa Timur, saya adalah seorang anak kecil yang terbiasa dengan kehidupan desa. Tidak ada Playstation, belum ada Mall, belum banyak narkoba, yang bisa dilakukan oleh anak kecil seperti saya adalah dolan di sawah, cari ikan di sungai, dan kalau pengen gagah-gagahan pergi ke sendang (danau kecil) di ujung desa lalu melompat dan salto langsung ke danau “Byur”. Jadi tidak ada sekat antara kaya dan miskin, nakal dan soleh, semuanya “dolan” bersama.

            Hari itu Kami selesai mandi di sungai. Tidak ada jalan lain selain menunggu Truck Tebu di jalan raya, untuk sekedar mencabut satu dua batang sambil berjalan pulang. Belum kesampaian Truck datang tiba-tiba seorang teman melihat sesuatu di dasar Sungai sebelah jalan raya. Warnanya hijau muda mengkilap di terpa sinar matahari. Kami pun berlarian tanpa dikomando saling dorong, saling jegal, tidak ada tujuan lain kecuali mendapatkan benda tersebut. Setelah dekat tampak jelaslah sebutir telur bebek ada di hadapan Kami.

Ada teman saya Joko namanya. Badannya paling besar dan larinya paling cepat, ketika yang lain masih tarik-tarikan, jegal-jegalan, dia sudah tertawa terkekeh sambil memegang benda yang ternyata telur bebek itu. Melongolah Kami semua. Sempat Kami berpikir untuk apa Kami saling jegal-jegalan, tarik-tarikan, dan ternyata orang lain yang menuai hasilnya.

Setelah itu Kami termenung mau diapakan  sebutir telur bebek mentah di jalan raya dekat sawah yang begitu luas. Setengah jam Kami berdebat, satunya minta dibuang saja biar adil, satu lagi ada ide, cari penggembala Bebeknya dan berikan telurnya, kemudian tercetuslah ide baru, mengapa kita tidak mencari udang atau ikan kecil kemudian digorang bersama telur dan dibawa ke rumah untuk dimakan bersama. Akhirnya kembalilah kami ke sawah, disitu ada kangkung yang siap panen di bawahnya biasanya banyak udang kali sebesar ibu jari. Dan Kami pun mencari udang dengan senang hati. Sebelum pulang tidak lupa saya minta seikat kangkung pada Si Empunya yang punya kangkung.

Sesampainya di rumah seorang teman Kami ditanak-kan nasi oleh Ibu teman saya ini. Kemudian telur bebek dan udang kita goreng dengan sedikit garam dan bawang. Kangkung ditumis dan jadilah makanan yang lezat.

Hmm dua puluh tahun kemudian saya mulai berfikir kalau hanya untuk membeli tumis kangkung, udang kali, dan sebutir telur sekarang ini dan saya makan sendiri InsyaAlloh saya sanggup. Tapi terasa ada yang hilang ketika saya makan sendiri, saya rindu jegal-jegalan, saya rindu balap lari, saya rindu cari udang, tanpa ada seorangpun yang tersakiti dan semuanya merasa bahagia.

Kisah sebutir Telur Bebek

20 Tahun yang lalu di sebuah desa kecil di Jawa Timur, saya adalah seorang anak kecil yang terbiasa dengan kehidupan desa. Tidak ada Playstation, belum ada Mall, belum banyak narkoba, yang bisa dilakukan oleh anak kecil seperti saya adalah dolan di sawah, cari ikan di sungai, dan kalau pengen gagah-gagahan pergi ke sendang (danau kecil) di ujung desa lalu melompat dan salto langsung ke danau “Byur”. Jadi tidak ada sekat antara kaya dan miskin, nakal dan soleh, semuanya “dolan” bersama.

            Hari itu Kami selesai mandi di sungai. Tidak ada jalan lain selain menunggu Truck Tebu di jalan raya, untuk sekedar mencabut satu dua batang sambil berjalan pulang. Belum kesampaian Truck datang tiba-tiba seorang teman melihat sesuatu di dasar Sungai sebelah jalan raya. Warnanya hijau muda mengkilap di terpa sinar matahari. Kami pun berlarian tanpa dikomando saling dorong, saling jegal, tidak ada tujuan lain kecuali mendapatkan benda tersebut. Setelah dekat tampak jelaslah sebutir telur bebek ada di hadapan Kami.

Ada teman saya Joko namanya. Badannya paling besar dan larinya paling cepat, ketika yang lain masih tarik-tarikan, jegal-jegalan, dia sudah tertawa terkekeh sambil memegang benda yang ternyata telur bebek itu. Melongolah Kami semua. Sempat Kami berpikir untuk apa Kami saling jegal-jegalan, tarik-tarikan, dan ternyata orang lain yang menuai hasilnya.

Setelah itu Kami termenung mau diapakan  sebutir telur bebek mentah di jalan raya dekat sawah yang begitu luas. Setengah jam Kami berdebat, satunya minta dibuang saja biar adil, satu lagi ada ide, cari penggembala Bebeknya dan berikan telurnya, kemudian tercetuslah ide baru, mengapa kita tidak mencari udang atau ikan kecil kemudian digorang bersama telur dan dibawa ke rumah untuk dimakan bersama. Akhirnya kembalilah kami ke sawah, disitu ada kangkung yang siap panen di bawahnya biasanya banyak udang kali sebesar ibu jari. Dan Kami pun mencari udang dengan senang hati. Sebelum pulang tidak lupa saya minta seikat kangkung pada Si Empunya yang punya kangkung.

Sesampainya di rumah seorang teman Kami ditanak-kan nasi oleh Ibu teman saya ini. Kemudian telur bebek dan udang kita goreng dengan sedikit garam dan bawang. Kangkung ditumis dan jadilah makanan yang lezat.

Hmm dua puluh tahun kemudian saya mulai berfikir kalau hanya untuk membeli tumis kangkung, udang kali, dan sebutir telur sekarang ini dan saya makan sendiri InsyaAlloh saya sanggup. Tapi terasa ada yang hilang ketika saya makan sendiri, saya rindu jegal-jegalan, saya rindu balap lari, saya rindu cari udang, tanpa ada seorangpun yang tersakiti dan semuanya merasa bahagia.

My Photo

June 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30